Sumbawa-(beritapembaharuan.com): Pernahkah kita bertanya, mengapa perintah shalat justru turun saat Rasulullah berada di titik paling sedih dalam hidupnya? Tahun itu dikenal sebagai ‘Āmul Ḥuzn, Tahun Kesedihan. Dalam waktu berdekatan, Rasulullah kehilangan Khadijah, penopang cinta dan iman, serta Abu Thalib, pelindung dari kerasnya Quraisy. Duka datang bertubi-tubi, seolah dunia menutup semua pintu harapan.
Kesedihan itu bukan hanya kehilangan orang tercinta, tetapi juga hilangnya rasa aman. Tekanan dakwah semakin kejam, dan ketika Rasulullah mencari harapan ke Thaif, yang menyambut justru cacian dan lemparan batu hingga darah mengalir di telapak kaki mulianya. Bayangkan, jika itu terjadi pada kita, apakah iman masih mampu bertahan?
Namun Allah tidak membiarkan kekasih-Nya larut dalam duka tanpa jawaban. Saat bumi terasa sempit, langit justru membukakan pintunya. Di sebuah malam yang hening, Rasulullah diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sebuah perjalanan yang melampaui batas logika manusia, namun sarat akan makna. Inilah Isra, penghiburan ilahi yang datang tanpa diminta. Isra bukan sekadar perjalanan, tetapi pelukan Tuhan bagi hati yang terluka.
Perjalanan itu berlanjut ke langit dalam peristiwa Mi‘raj. Rasulullah bertemu para nabi, menyaksikan kebesaran Allah, hingga mencapai kedekatan yang tak terlukiskan. Dan di puncak kedekatan itu, Allah tidak menurunkan perintah berupa harta, kekuasaan, atau kemenangan dunia, melainkan shalat.

Bukankah ini menggetarkan? Shalat lahir bukan di hari penuh kemenangan, tetapi di tengah luka dan kesedihan. Seolah Allah berbisik, “Jika dadamu terasa sesak, jika dunia membuatmu letih, maka datanglah kepada-Ku.” Lima waktu shalat menjadi jembatan harian antara langit dan bumi, antara hamba yang rapuh dan Tuhan Yang Maha Menguatkan.
Shalat adalah hadiah dari langit untuk mereka yang diuji di bumi. Setiap takbir mengajarkan kita bahwa Allah lebih besar dari segala masalah. Setiap sujud mengingatkan, bahwa dalam kerendahan, justru ada kekuatan. Inilah cara Allah menguatkan, bukan dengan menghapus duka, tapi dengan menemani hamba-Nya melewatinya.


