Berita Pembaharuan

Live News

28.3°C
  • Sumbawa
October 22, 2026
Follow Us:

BeritaPembaharuan.com

Kontak:

space-iklan-top

BeritaPembaharuan.com

Kontak:

Berita PembaharuanNewsOpiniSepertinya pemerintah Provinsi NTB menjadikan Pemerintah Kabupaten Sebagai Bemper isu Lingkungan.

Sepertinya pemerintah Provinsi NTB menjadikan Pemerintah Kabupaten Sebagai Bemper isu Lingkungan.

Oleh : Syaifullah
Lembaga Pusat Pengembangan Daerah (LPPD)

SUMBAWA, Beritapembaharuan – Kita melihat dengan sangat jelas Bagaimana kepentingan perpajakan melalui sektor -sektor sangat produktif terserap ke provinsi, hal ini jelas karena corong dan kebijakan ada di tangan pemerintah provinsi baik langsung dan tidak langsung ke pemerintah pusat. Seperti Pertambangan, Kelautan dan perikanan, Kehutanan, bahkan pertanian menjadi bidang yg juga tidak terlepas dari Pemerintah Provinsi. Namun, setelah dua tahun berJalan pengabdian Pemerintah Provinsi hanya condong ke infrastruktur. Sementara lingkungan menjadi asfek lipservis (sekedar di janji politik). Ketika Tabeatnya pemerintah provinsi hanya fokus di infrastruktur maka sebagai penulis saya yakin, Tabeat korupsi orang-orang ini sangat jelas (pemainan persen persenan, kita melihat bagaimana proyek gagal jalan menuju lunyuk) karena ada pemotongan persen diawal oleh para kelas kakap sialan.

Membangun Infrastruktur sudah jelas tidak akan menyentuh akar rumput dari segi anggaran. Masyarakat hanya akan tepuk tangan kalau aspal mulus dan jembatan bagus, sementara penikmatnya siapa. Penikmatnya adalah kontraktor yg kawin dengan kekuasaan.

Lihat lingkungan kita amblas, hutan kita rusak pemerintah kabupaten terpaksa ambil alih hal ini oleh karena yg punya gawe tidak mau karena buang uang dan tidak ada untung kalau mengelola lingkungan yg rusak seperti sekarang, akibatnya apa, terjadilah pesta para binatang (permainan pedang bermata dua). Lingkungan dan perut. Lalu masyarakat diaduk pada pemahaman yg mentah kronis, tinggal persepsi publik tentang pembangunan baik vertikal maupun horizontal menjadi kesasar.

“Beang mo rusak olat nan ete batu, Poko bau mangan swai anak, anak bau sekolah (Tau dunung sekolah anak, to ta srea boe mo jadi Kabid kepala dinas) prasa saya nosoka koar olat ble, atau sereba olat. Tapi dadi manusia anak”.

Ini kadang menyayat hati, meski demikian kita sudah menjadi bagian dari kerunyaman ini. Kita melihat hutan rusak, pinggir-pinggir jalan provinsi penuh sampah, bahkan jadi TPA. Tempat pembuangan akhir (kan dibakar). Setalah semua yg parah ini terjadi dan menjadi tontonan harusnya sudah cukup saja, namun masih saja. Entah akan separah apa akhirnya.

Sejauh ini kami Lembaga Pusat Pengembangan Daerah (LPPD) tidak melihat pemerintah provinsi konkrit dalam memperhatikan persoalan ini. Lalu dikemanakan anggaran lingkungan atau program yg bersumber dari kementrian Lingkungan. ? Atau dikemanakan pernyataan Pak Gubernur sebelum terpilih yg tidak senang melihat sampah-sampah dibuang dipinggir jalan Provinsi.

Lihat Bima, Dompu, Sumbawa dan KSB. Pemerintah provinsi gagal memberdayakan/diperdaya masyarakat untuk menjawab perbaikan lingkungan yg rusak di Pulau Sumbawa.
60 %Tambak tanpa IPAL haya turun cek tanpa action. Ini menjadi tontonan lucu supaya biota laut sekitar pantai dirusak ya oleh semua aktifitas yg tidak pro lingkungan, oleh para penambak yg tidak bertanggung jawab. Kasihan bahwa pemahaman pemerintah provinsi sangat dangkal dengan lingkungan. Nampaknya pulau Sumbawa hanya dimanfaatkan untuk mempertabal kantong Pemerintah Provinsi, namun anggaran yg datang hanya setetes sementara yg terserap dan ketarik dan ditarik naik dan apalagi…..ke pemprov bak air Bah.

Sudah dua Tahun tidak ada program yg realistis dari pemerintah provinsi untuk memperbaiki semua kerusakan lingkungan di pulau Sumbawa. Yg muncul hanya eksplorAsi dan ekploitasi dan angka-angka serap anggaran yg sektor produktif luar biasa ini sumbangkan ke pendapatan provinsi. Kasihan dinas-dinas Kabupaten hanya dijadikan bemper pengaman provinsi saat muncul 1001 masalah di lingkungan dan masyarakat (sosial). Soalnya : apa yg harus dilakukan jika Lingkungan Rusak, hutan Gundul. Jawabannya : membangun jalan Batu dulang tepal. Sebuah jawaban yg sungguh_sungguh bermanfaat. Sakit perut dikasi obat sakit kepala. Kaki di kepala kepala dikaki. $oalnya kemana jawabannya kemana. Nggak Nyambung.

Mendiamkan hal yg rusak ini adalah upaya mempertebal kebodohan kita karena merasakan ada kepentingan transaksi personal mungkin. Maaf saja, kepentingan sebenarnya adalah kebenaran. Jika alam rusak imbsnya ke kita semua. Sebentar lagi Desa Lito Hancur oleh Air Bah, sekarang Sumbawa krisis air bersih RT, Suhu naik sekian derajat (sangat panas), toko-toko yg menjual AC sebagai penyumbang panas CSR mana untuk tanam pohon- Pabrik AC ada gak di pulau Sumbawa-kalau tidak ada minta Pemprov untuk tagi sana CsR nya melihat hal ini lalu pemerintah Provinsi diam.

Ketika anggaran pemerintah provinsi tidak sampai ke akar rumput (untuk reboisasi kerusakan hutan), disaatvyv sama banyak proyek gagal, ada juga yg berhasil (sebagai penyeimbang – pengalihan isu) Ketika kita dibodohi oleh gemerlapnya pembangunan infrastruktur yg mengkilap dan jembatan2 megah, disaat yg sama segelintir orang-orang tamak dan serakah sedang memperkaya dirinya. Be careful, pemerintah seperti ini tidak sedang berpihak ke rakyat, pemerintah seperti ini sedang berpihak kepada konco-kionconya. Kontaktor korup, suplayer korup dan dia juga ikut korup.

Terkadang hal lucu tidak dipertotntonkan oleh komedi. Tapi pejabat yg hanya ingin menang sendiri. Tuhan yg maha kuasa saja atas segala galanya membagi oksigen secara gratis kepada manusia. Lah, manusia punyabkuasa sedikit saya ingin monopoli jalur distribusi hidup. Sungguh keparat.

Terkait gagalnya proyek jalan Lunyuk, hanya orang Bodh yg tidak tau. Bahwa ada persaingan kontraktor besar, yg lama mau dicuci atau diganti, lalu disingkirkan, tapi jangan kepentingan masyarakat diganggu dong. Ini bukan hanya diganggu ini disunat lalu gagal, kasihan sekali daerah yg ada di pulau Sumbawa ini. Mungkin disaat tulisan ini kami tulis kalian sedang berpesta membagi untung proyek Mega jalan batu dulang tepal, tapi mboh dipikir juga dong lingkungannya. Bagi kue boleh, tapi jangan lupa dan serakah. Ada hal-hal yg dilakukan mendapat untung. Namun, ada juga hal-hal yg anggrannyab bersifat investasi untuk jangka panjang, yaitu hutan kita yg harus diselamatkan untuk menjaga agar ada keberlangsungan hidup. Air adalah sumber kehidupan, maka pohon-pohon yg bisa menyimpan air juga harus segera ditanam.

Ini otomatis kritik kami kepada Pemprov sebagai bentuk kasih dan sayang, karena melihat fakta di bawah yg sungguh miris lagi ironis. Mohon jngan dibenci dan dibully llau diskreditkan. Jika dibencipun nda apa apa. Kami Masi punya Tuhan.

Share:
Tags:

Berita Terkait