Berita Pembaharuan

Live News

28.3°C
  • Sumbawa
July 3, 2026
Follow Us:

BeritaPembaharuan.com

Kontak:

space-iklan-top

BeritaPembaharuan.com

Kontak:

Berita PembaharuanNewsOpiniLemahnya Literasi Mahasiswa di Kabupaten Sumbawa: Ancaman Bagi Kualitas Sumber Daya Manusia Daerah.

Lemahnya Literasi Mahasiswa di Kabupaten Sumbawa: Ancaman Bagi Kualitas Sumber Daya Manusia Daerah.

Oleh : Jaehan Lisma Lera <> 251011024
Mahasiswa jurusan ilmu komunikasi UTS

SUMBAWA, Beritapembaharuan – Di era revolusi industri 4.0 dan transformasi digital, literasi menjadi kompetensi utama yang menentukan daya saing bangsa. Mahasiswa sebagai kelompok intelektual diharapkan mampu membaca secara kritis, menulis secara ilmiah, melakukan penelitian, dan menghasilkan inovasi. Namun, kenyataannya budaya literasi di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sumbawa, masih menghadapi tantangan yang serius.

Permasalahan literasi tidak hanya diukur dari kemampuan membaca, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis data, mengevaluasi sumber informasi, serta mengomunikasikan gagasan secara ilmiah. Oleh karena itu, lemahnya budaya literasi akan berdampak langsung terhadap kualitas lulusan perguruan tinggi.

Potret Literasi Nasional

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor kemampuan membaca Indonesia sebesar 359 poin, jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD yang mencapai sekitar 476 poin. Posisi ini menunjukkan bahwa kemampuan memahami bacaan, menarik kesimpulan, dan berpikir kritis peserta didik Indonesia masih memerlukan perhatian serius.

Walaupun PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun, hasil tersebut menjadi gambaran awal kualitas calon mahasiswa yang kemudian memasuki perguruan tinggi.

Selain itu, Perpustakaan Nasional terus mengembangkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) sebagai indikator pembangunan ekosistem literasi di Indonesia. Indeks ini mengukur dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan perpustakaan, akses bahan bacaan, tenaga perpustakaan, dan budaya membaca masyarakat.

Kondisi Literasi Kabupaten Sumbawa

Kabupaten Sumbawa memiliki tantangan geografis yang cukup besar. Dengan wilayah yang luas, terdiri atas 24 kecamatan dan 157 desa/kelurahan, pemerataan layanan perpustakaan dan akses bahan bacaan menjadi tantangan tersendiri.

Data resmi yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Sumbawa bersama Perpustakaan Nasional menunjukkan bahwa Indeks Literasi Masyarakat Kabupaten Sumbawa berada pada angka sekitar 5,177, yang dikategorikan masih rendah. Angka tersebut menjadi dasar pemerintah daerah untuk memperkuat sinergi antara Dinas Perpustakaan, Dinas Pendidikan, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta perguruan tinggi dalam meningkatkan budaya literasi.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa kemudian meluncurkan berbagai program, antara lain:

  • Peningkatan layanan perpustakaan keliling;
    Pembentukan pojok baca hingga tingkat desa;
    Penguatan taman baca masyarakat;
    Polaborasi dengan perguruan tinggi;
    Pampanye literasi digital.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah sendiri mengakui budaya literasi masyarakat masih menjadi pekerjaan besar.

Mengapa Mahasiswa Ikut Terdampak?

Walaupun belum tersedia indeks literasi khusus mahasiswa Kabupaten Sumbawa, terdapat hubungan yang sangat kuat antara budaya literasi masyarakat dengan budaya akademik di perguruan tinggi.

Mahasiswa berasal dari lingkungan pendidikan dasar dan menengah yang sama. Ketika budaya membaca sejak sekolah masih rendah, maka kebiasaan tersebut terbawa hingga bangku kuliah.

Beberapa fenomena yang sering dijumpai antara lain:

Mahasiswa lebih sering mengandalkan ringkasan materi dibanding membaca buku referensi secara utuh.
Penggunaan media sosial lebih dominan dibanding membaca jurnal ilmiah.
Referensi tugas kuliah masih banyak berasal dari blog atau sumber yang kurang kredibel.
Kemampuan menulis karya ilmiah masih terbatas pada memenuhi tugas, bukan menghasilkan penelitian yang berkualitas.
Kunjungan ke perpustakaan masih relatif rendah dibanding penggunaan internet untuk hiburan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga rendahnya budaya berpikir ilmiah.

Faktor Penyebab Lemahnya Literasi Mahasiswa

Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab antara lain:

  1. Budaya membaca belum terbentuk

Membaca belum menjadi kebutuhan sehari-hari, melainkan dilakukan hanya ketika ada tugas kuliah.

  1. Dominasi media sosial

Mahasiswa lebih banyak mengonsumsi konten singkat dibanding bacaan akademik yang memerlukan konsentrasi dan analisis mendalam.

  1. Akses referensi ilmiah

Walaupun internet menyediakan banyak informasi, akses terhadap jurnal internasional, buku elektronik, dan basis data ilmiah masih belum dimanfaatkan secara optimal.

  1. Rendahnya motivasi penelitian

Masih sedikit mahasiswa yang aktif mengikuti penelitian, publikasi ilmiah, lomba karya tulis, maupun seminar akademik.

  1. Ekosistem literasi

Budaya diskusi ilmiah, klub baca, dan komunitas penulis belum berkembang secara merata di seluruh perguruan tinggi.

Dampak terhadap Kualitas SDM

Apabila kondisi ini terus berlangsung, beberapa konsekuensi yang dapat muncul adalah:

rendahnya kemampuan berpikir kritis;
meningkatnya praktik plagiarisme;
rendahnya kualitas skripsi dan penelitian;
minimnya publikasi ilmiah mahasiswa;
rendahnya inovasi daerah;
lulusan kurang siap menghadapi dunia kerja yang menuntut kemampuan analisis.

Padahal, mahasiswa merupakan calon pemimpin daerah yang akan menentukan arah pembangunan Kabupaten Sumbawa di masa depan.

Solusi yang Dapat Dilakukan

Upaya peningkatan literasi mahasiswa memerlukan kolaborasi berbagai pihak.

Pertama, perguruan tinggi perlu memperkuat budaya membaca melalui kewajiban penggunaan referensi ilmiah dalam setiap mata kuliah.

Kedua, perpustakaan kampus harus bertransformasi menjadi pusat belajar yang nyaman dengan koleksi buku fisik dan digital yang mutakhir.

Ketiga, dosen perlu lebih aktif membimbing mahasiswa dalam membaca jurnal ilmiah, menulis artikel, dan melakukan penelitian.

Keempat, pemerintah daerah perlu memperluas program pojok baca, perpustakaan digital, dan komunitas literasi hingga menjangkau desa-desa.

Kelima, mahasiswa harus membangun kesadaran bahwa membaca bukan sekadar memenuhi tugas, melainkan investasi intelektual untuk masa depan.

Penutup

Lemahnya literasi mahasiswa di Kabupaten Sumbawa merupakan persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari kondisi literasi masyarakat secara umum. Data menunjukkan bahwa indeks literasi masyarakat Kabupaten Sumbawa masih berada pada kategori rendah, sehingga diperlukan intervensi yang sistematis dan berkelanjutan. Walaupun belum tersedia data khusus mengenai tingkat literasi mahasiswa, berbagai indikator menunjukkan bahwa penguatan budaya membaca, menulis, berpikir kritis, dan penelitian harus menjadi prioritas utama perguruan tinggi.

Apabila perguruan tinggi, pemerintah daerah, perpustakaan, dosen, dan mahasiswa mampu membangun ekosistem literasi yang kuat, maka Kabupaten Sumbawa akan memiliki sumber daya manusia yang lebih unggul, inovatif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

Share:
Tags:

Berita Terkait