Penulis : Junaidi, S.Pd.M.Pd
Kabid Pembinaan SMP Dinas Dikbud Kabupaten Sumbawa/ Koordinator Litbang Dewan Kesenian Kabupaten Sumbawa.
SUMBAWA, Beritapembaharuan – Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) merupakan agenda kompetisi bergengsi yang diselenggarakan secara berjenjang untuk menjaring serta mengembangkan potensi talenta peserta didik di bidang seni dan sastra di seluruh Indonesia.
Secara substansial, ajang ini berfungsi sebagai wahana bagi siswa dalam mengekspresikan diri, mengasah kreativitas, serta menanamkan apresiasi terhadap kekayaan budaya nasional. Kompetisi ini dirancang untuk menumbuhkan rasa percaya diri, disiplin, dan daya saing yang sehat, sehingga bakat-bakat seni yang terpendam dapat tersalurkan melalui wadah yang terukur, profesional, dan memiliki standar penilaian yang jelas.
Kajian teknis FLS3N melibatkan evaluasi terhadap berbagai cabang seni, mulai dari seni pertunjukan seperti Tari Kreasi, Pantomim, dan Kreativitas Musik Tradisional hingga seni sastra dan visual seperti Mendongeng, Menulis Cerita, serta Ilustrasi.
Penilaian dalam kompetisi ini dilakukan oleh dewan juri ahli, seperti perwakilan dari Dewan Kesenian Sumbawa, yang melakukan verifikasi ketat terhadap orisinalitas karya, penguasaan teknik, hingga kedalaman interpretasi pesan yang dibawakan oleh siswa. Standar penilaian ini memastikan bahwa setiap karya yang keluar sebagai pemenang tidak hanya menonjol dari sisi teknis, tetapi juga memiliki kedalaman estetika yang mampu merepresentasikan kompetensi artistik siswa sesuai dengan tuntutan kurikulum pendidikan seni nasional.
Fakta menunjukkan bahwa pada tahun 2026, tingkat partisipasi sekolah dalam ajang FLS3N di tingkat Kabupaten Sumbawa masih berada di bawah angka 30 persen. Rendahnya angka partisipasi ini menjadi indikator adanya hambatan struktural yang menghalangi satuan pendidikan untuk mengirimkan delegasi terbaiknya ke tingkat kabupaten.
Kondisi ini menuntut refleksi mendalam mengenai realitas di lapangan, di mana akses sekolah terhadap informasi lomba, ketersediaan sarana latihan, dan komitmen waktu dari pihak sekolah adalah menjadi faktor penentu utama dalam memutuskan keterlibatan siswa pada perhelatan seni tingkat kabupaten tersebut.
Hasil FLS3N tahun 2026 menunjukkan bahwa perolehan juara masih didominasi oleh sekolah-sekolah di kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa Besar, dan Empang.
Prestasi ini menonjolkan nama-nama siswa seperti Aqila Adrena Tamrin (Tari Kreasi), Azwan Al Gifari (Musik Tradisional), dan Rafli Amrillah-Abdul Kholik (Pantomim) sebagai Juara I yang menunjukkan kapabilitas teknis di atas rata-rata. Dominasi pemenang dari wilayah-wilayah tertentu ini mengonfirmasi bahwa sekolah-sekolah yang memiliki ekosistem pembinaan seni lebih baik cenderung lebih konsisten dalam meraih prestasi di ajang kabupaten.
Analisis berdasarkan hasil tahun ini menunjukkan adanya ketimpangan kualitas yang cukup tajam antara sekolah yang sudah memiliki pola pembinaan terstruktur dengan sekolah lainnya.
Sekolah seperti SMPN 3 Moyo Hulu, misalnya, berhasil membuktikan bahwa diversifikasi bakat dapat dikelola dengan sangat baik melalui pendekatan yang terintegrasi di banyak cabang lomba.
Sebaliknya, minimnya sebaran juara dari banyak kecamatan lainnya menegaskan bahwa potensi bakat seni belum tergarap secara optimal, sehingga diperlukan upaya konkret untuk melakukan pendampingan yang lebih merata agar disparitas kualitas ini tidak semakin melebar di tahun-tahun mendatang.
Menghadapi tantangan tersebut, kolaborasi menjadi kata kunci yang tidak bisa ditawar lagi dalam pengembangan bakat seni di lingkungan sekolah. Sekolah harus mulai membuka diri terhadap komunitas seni lokal dan pegiat budaya setempat untuk bertindak sebagai mitra strategis dalam memberikan pelatihan yang lebih profesional. Dengan melibatkan komunitas seni, sekolah akan mendapatkan akses pada kurasi teknis dan wawasan kreatif yang lebih luas tanpa harus menanggung beban administratif secara mandiri, sehingga proses pembinaan siswa dapat berjalan lebih dinamis dan memiliki standar yang lebih kompetitif di masa depan.
Sebagai kesimpulan, FLS3N 2026 merupakan cerminan dari potensi seni yang luar biasa namun masih memerlukan pemerataan pembinaan yang lebih serius. Rendahnya angka partisipasi dan konsentrasi juara yang masih terpusat di beberapa kecamatan menjadi tantangan yang harus dijawab dengan kemitraan berbasis komunitas terutama kemitraan dengan sanggar seni.
Jika sekolah mampu bersinergi dengan praktisi seni lokal untuk menciptakan ekosistem pembinaan yang inklusif dan berkelanjutan, maka seni dan budaya lokal akan menjadi branding sekolah sebagai pemicu transformasi Lembaga Pendidikan unggulan yang merata di Kabupaten Sumbawa.


