SUMBAWA, Beritapembaharuan– Perwakilan Yayasan Hidayatul Qur’an Samawa, Muhammad Labib. SE, menyampaikan bahwa pembangunan Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) di Karang Dima, Kecamatan Labuhan Badas, menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam penyesuaian terhadap standar dan aturan yang telah ditetapkan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurutnya, proses pembangunan tidak dapat dilakukan secara cepat karena harus menyesuaikan dengan berbagai ketentuan, baik dari sisi pembangunan fisik maupun standar dapur dan fasilitas penunjang lainnya.
“Pembangunan SPPG yang ada di Karang Dima, Kecamatan Labuhan Badas, memang hari ini tidak mudah. Ada beberapa hal yang harus menyesuaikan dengan aturan-aturan yang ada, baik dalam pembangunan maupun isi dapur yang semuanya harus sesuai standar dari BGN,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketatnya aturan yang diterapkan membuat proses pembangunan berjalan lebih lambat. Namun hal tersebut dinilai penting karena program ini bukan sekadar investasi perorangan, melainkan investasi jangka panjang bagi generasi bangsa.
“Kita harus mengikuti aturan-aturan yang ada, karena ke depan ini bukan berbicara soal investasi pribadi, tetapi investasi jangka panjang bagi anak bangsa kita,” tambahnya.
Lebih lanjut, Muhammad Labib menilai konsep yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui program ketahanan pangan dan industri pendukung tidak hanya berdampak pada lingkungan sekitar proyek, tetapi juga akan memberikan efek berganda terhadap perekonomian masyarakat.
Menurutnya, keberadaan SPPG nantinya akan melibatkan banyak sektor, mulai dari pemasok bahan pangan, petani, hingga pelaku usaha kecil lainnya. Ia menyebut kondisi ini mulai memberikan dampak positif, terutama terhadap harga hasil pertanian yang perlahan membaik.
“Ini berbicara tentang multiplier effect, khususnya untuk supplier dan petani yang dulu menjerit. Hari ini harga mulai membaik, walaupun memang belum semuanya,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa program tersebut diharapkan mampu menggerakkan siklus ekonomi masyarakat di tengah kondisi ekonomi global yang dinilai belum sepenuhnya stabil.
Di sisi lain, pihaknya mengakui masih terdapat berbagai evaluasi dalam pelaksanaan program, termasuk persoalan administrasi, surat-menyurat, hingga penyesuaian harga dan kondisi ekonomi yang berkembang di lapangan.
Meski demikian, pihak yayasan tetap optimistis dan berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan agar program MBG dan pembangunan SPPG dapat berjalan lebih baik ke depannya.
“Kita akan terus belajar dari evaluasi yang ada dan melakukan pembaruan agar pelaksanaan program ini semakin baik dan menuju kesempurnaan,” tutupnya.


