Sumbawa Barat, beritapembaharuan ( 8 Juni 2026) – Setiap hari, hampir 100.000 ton bijih hasil penambangan mengalir menuju pabrik
pengolahan (processing plant) tambang Batu Hijau yang dioperasikanPT Amman Mineral Nusa Tenggara
(AMMAN). Dibalik proses besar tersebut, terdapat satu hal yang menjadi kunci keberhasilan operasional:
memastikan setiap material yang masuk ke pabrik dapat diproses dengan aman, lancar, dan efisien.
Tugas inilah yang menjadi perhatian Victor, Achmad, dan tim Metallurgi AMMAN. Mereka terus memantau
aliran material yang bergerak melalui ban berjalan (conveyor) menuju SAG Mill, mesin penggiling raksasa yang
berperan penting dalam mengubah batuan bijih menjadi partikel yang lebih halus sebelum memasuki proses
pemisahan mineral.
Namun, di antara aliran bijih tersebut, terkadang terdapat objek berukuran ekstrem (oversize objects) atau
material asing non-batuan yang ikut terbawa dari area tambang.
Jika tidak terdeteksi lebih awal, material
tersebut berpotensi mengganggu aliran bijih menuju SAG Mill dan memengaruhi kelancaran proses
pengolahan.
Melihat Lebih Jelas dengan Teknologi Laser 3D
Sebelumnya, pemantauan aliran material mengandalkan sistem kamera dua dimensi (2D). Meski efektif,
sistem ini memiliki keterbatasan visual dalam membedakan objek ketika kondisi pencahayaan berubah atau
ketika material memiliki warna dan tekstur yang serupa.
Berangkat dari tantangan tersebut, tim AMMAN mengembangkan pendekatan yang lebih presisi melalui
penerapan teknologi 3D Particle Size Measurement (3DPM) berbasis laser triangulation.
Teknologi ini
dipasang di jalur conveyor sebelum material memasuki SAG Mill. Dengan memanfaatkan pemindaian laser tiga
dimensi secara real-time, sistem mampu mengukur bentuk, ukuran, dan volume objek secara lebih akurat
dibandingkan metode konvensional. Hasilnya, objek yang berpotensi mengganggu proses dapat teridentifikasi
lebih dini sehingga operator memiliki waktu yang cukup untuk melakukan tindakan pencegahan.
Presisi yang Menghasilkan Efisiensi
Penerapan teknologi 3DPM memberikan visibilitas yang lebih baik bagi operator dalam memantau kondisi
material yang masuk ke pabrik. Informasi yang lebih akurat memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih
cepat dan tepat, sekaligus membantu mengurangi potensi gangguan operasional.
Selain meningkatkan keandalan proses, teknologi ini juga mendukung kelancaran aliran material di pabrik
pengolahan sehingga ritme produksi dapat terjaga lebih konsisten.
Bagi Victor, inovasi ini merupakan contoh nyata bagaimana budaya perusahaan mendorong karyawan untuk
terus mencari solusi yang relevan dengan tantangan operasional sehari-hari.
“Implementasi teknologi 3DPM
menunjukkan bagaimana inovasi dapat lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Kami tidak hanya mengadopsi
teknologi baru, tetapi juga mengembangkannya agar sesuai dengan kondisi operasional kami. Hasilnya adalah
proses yang lebih andal, efisien, dan mampu mendukung pengelolaan risiko operasional yang lebih baik,” ujar
Victor.
Inovasi ini menjadi salah satu contoh komitmen AMMAN dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan
keunggulan operasional sekaligus mendukung praktik pertambangan yang semakin modern, aman, dan
berkelanjutan.


